August 2017

Standard

Wow! It’s been a year since I shared my last post! Hahaha, malesnya update blog ckckck

So, 2016 or at least after I published my last post, was such a rollercoaster year for me and my husb!! Banyak sekali hal yang terjadi dan Alhamdulillah semoga mendewasakan kita ya, Love šŸ˜€

Last year I had miscarriage, unfortunately. Aku harus menjalani proses kuretase di bulan Juli 2016 karena janinku tidak berkembang saat itu. Sedih? Jelas. Probably it is my all time biggest broken heart ever. Ketika merasakan kehilangan, rasanya wow sekali :’)

Patah hati-patah hati sebelumnya tidak ada apa-apanya deh dibanding kesedihan yang satu ini. Tapi, Alhamdulillah sekali. Aku diberikan seorang suami yang sabar. Di saat-saat itu, aku paham betul kalau dia pun juga sangat sedih. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan kesedihannya karena saat itu aku benar-benar patah hati. Katanya, kalau bukan dia yang membesarkan hatiku, siapa lagi coba? :’) Makanya, suamiku bener-bener yang terbaik untukku. Alhamdulillah yaa Allah for this priceless gift šŸ˜€

Selang beberapa waktu sebelum aku menjalani kuretase pun, kami mengalami kehilangan. Motor Vixion kesayangan suamiku dicuri šŸ˜¦ Jadi, bukan tanpa alasan aku menyebutnya sebagai lelaki terbaik untukku kan? :’) Alhamdulillah.

Setelah masa-masa kesedihan itu, suamiku mengajak untuk hidup lebih baik. Mungkin Allah memberikan teguran untuk kita berdua supaya bisa lebih siap menerima tanggungjawab yang lebih besar di kemudian hari, atau mungkin inilah cara Allah untuk Ā menghapuskan dosa-dosa masa lalu kami berdua. Suamiku memberikan motivasi untuk selalu berfikir positif dan menjalani hari dengan bahagia.

Alhamdulillah, September 2016 kami sempatkan jalan-jalan ke Bandung untuk melepas penat sekalian menghadiri undangan pernikahan teman. Ada hal baru yang terjadi kala itu, pertama kalinya aku jalan kaki dari McD simpang dago sampai ke daerah Dago Asri jam 1 dini hari hahahahaha.

Saat itu, pesawat yang kami naiki mengalami keterlambatan sehingga baru sampai di Bandung kira-kira jam 12 malam. Setelah sampai Bandung, karena lapar, ya jelas kami sempatkan makan dulu di McD simpang Dago. Setelah makan, suami mengajak untuk melakukan hal random yaitu jalan kaki sampai penginapan kami yang kebetulan berada di daerah Dago Asri. Saat itu sih aku sebenernya pengen naik taksi saja, soalnya angkot udah ga ada, atau ojek. Tapi suami bersikeras mengajak. “Belum pernah kan”. Yaaaa, karena sama suami, ya aku percaya-percaya aja akan aman.

Perjalanan yang sebenarnya melelahkan dr McD simpang dago ke Dago Asri (karena menanjak), terbayar dengan waktu yang berkualitas untuk ngobrol hehehe. Saat itu jalanan sudah sangat sepi, meski ada beberapa warung tenda yang baru dibereskan penjualnya. Di sepanjang perjalanan, kami ngobrol dan tanpa terasa sampai juga di penginapan! Mantap! Suami langsung mengajak istirahat setelah dia memijit kakiku :’)

Paginya, aku diajak makan di pasar simpang dago. Dulu pas kuliah sih, aku kalau makan lontong padang di tempat itu. Tapi suami mengajak di tempat lain. Aku agak kesel sih pas dia ngajak di tempat lain, soalnya kan yang aku biasanya makan itu enak. Nah, pas sampai di tempat lontong padang, aku agak terkejut juga sih kok lontong padang nya dikasih semacam bumbu pecel gitu. Awalnya agak aneh, tapi setelah dimakan, enak juga :’) Setelah itu aku baru tau dr temenku orang Padang kalau lontong sayur dr Padang ya pakai semacam bumbu pecel itu. Simpel sih, tapi aku seneng lho diajakin ke tempat makan itu sama suamiku. Yang asalnya kesel tp ternyata malah merasakan lontong yang lebih autentik… :’) Setelah itu sih ya kami menghabiskan waktu jalan-jalan ke tempat wisata di Bandung yang baru dibuka, The Lodge Maribaya. Biasa aja sih ga ada yang spesial kecuali foto-foto doang hehehe. Oiya, pas itu, aku beli sate terenak di Bandung yaitu sate harris. Dulu 5 tahun di bandung ngapain deh kok baru ketemu sate enak kaya gini ckckck merasa gagal sebagai penyuka sate yang sempat tinggal di Bandung. Suami pun merasa demikian.

Liburan akhir tahun aku habiskan di Jawa Timur. Dari Lampung Tengah, aku menempuh perjalanan ke Jember via darat for the first time!!! Saat itu aku agak sangsi sih kuat apa gak ya naik mobil selama kira-kira 3 hari perjalanan, plus nyebrang laut pula. Duh kalo nyebrang laut kok pasti mabok wkwkwk tapi ternyata aku bisa yeay! Perjalanan ke Jember kami tempuh lewat pantura. Aku benar-benar menikmati perjalanan itu. Rasanya senanggg sekali bisa melihat jalanan, menyusuri kota-kota dari Jakarta hingga ke Pasuruan. Kami berangkat hari rabu sore, tiba di Jember jumat subuh. Setelah sholat jumat, langsung kami berangkat ke Malang buat liburan! Hahaha. Badan udah encok2 sih tapi terbayar dengan jalan-jalan di Malang.

Aku juga jalan-jalan ke daerah Lumajang, Probolinggo, dan sekitarnya. Refresh bgt rasanya waktu itu. 2016 ditutup dengan liburan panjang yang lumayan bikin otak dan jiwa segar kembali, meskipun habis itu males harus kerja lg wkwkwk

Nah, begitulah 2016. Ups and downs! Di tahun itu, aku mengalami banyak hal. Dari menikah, sedih karena harus kehilangan sesuatu yang dicintai, sampai cerita-cerita liburan. Like what I said before, 2016 itu tahun yang bener-bener roller coaster abis hehee. Alhamdulillah!!!

Dan 2017? We’re expecting for October yeayyy! Wish us luck ya semoga semuanya berjalan dengan lancar. Hope everything will be blessed by Allah SWT aaamiiiiin YRA.

 

xoxo

 

Bandung

Standard

my random journal

Pasupati

Di kedinginan malam aku memelukmu erat dilihat tiang-tiang besi serta jalanan ini yang kebetulan jadi saksi. Pemandangan yang tak bosan-bosannya kulihat. Di kananku kulihat rindangnya pepohonan menutup jalannya, di kiriku kulihat lampu-lampu. Di depanku kulihat punggungmu, tempat pelukku menghabiskan sisa-sisa rindu.

Dipati Ukur

Kita menggelora dan terbakar. Aku mendengar genjrengan gitar saat menyantap roti bakar. Bersamamu, aku hirup udara malam dingin pun pagi yang segar. Udara di jalan ini tak pernah berubah, udara yang selalu ingin kusapa denganmu. Meski malam pun, udara di jalan ini selalu terasa pagi. Sejuk dan menentramkan. Seperti saat matamu menujuku, yang entah mengapa mendamaikan.

Simpang Dago

Hujan. Kau menerobos melewati celah-celah jalan yang sempit. Bukan karena jalan yang tidak lebar, hanya kendaraan terlalu sibuk dalam kehadirannya. Pepohonan yang ada di pinggir jalan yang ramai di sebelah selatan, nah, seperti itu lah engkau. Meski ramai suara hati ku berteriak, di dalamnya, kutemukan rindangnya harapan. Meskiā€¦

View original post 695 more words

(2:216)

Standard

But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.

QS 2:216

Saya mulai dengan ayat ini. Memang segala sesuatu sudah jelas tertulis di Al Quran, bahkan untuk sesuatu yang belum terjadi sekalipun. Dan Allah Maha Mengetahui segalanya, sedangkan kita, hanya menerka-nerka dan jelas tidak memahami apapun hingga kenikmatan yang terus dipanjatkan dalam doa ada di depan mata.

Rasanya aneh sekali jika boleh melihat apa yang terjadi dalam hidup saya. Bukan aneh sih, hanya rasanya semuanya sudah benar-benar digariskan dan tertulis. Inilah kuasa Allah SWT dan tak ada yang mampu menepis kehendakNya.

Dimulai dari saya lahir ke dunia ini. Kita tidak bisa memilih keluarga. Allah yang menetapkan segalanya, dan anak adalah hak Allah semata. Alhamdulillah saya terlahir dari keluarga yang menanamkan kemandirian, disiplin, kerja keras, pantang menyerah, jujur, dan selalu berusaha untuk terus di jalan Allah. Alhamdulillah saya terlahir dari rahim Ibu yang kuat, tetap bekerja membantu Bapak meski harus tetap mencurahkan kasih sayang pada saya. Dari kecil saya dididik untuk tidak tergantung pada orang lain dan harus berusaha memecahkan masalah sendiri terlebih dulu. Perkara apa sikap yang diidamkan orangtua pada saya tersebut saat ini ada atau tidak pada diri saya, itu urusan dan tanggungjawab diri saya saat ini. Namun orangtua saya menanamkan itu dari kecil pada saya.

Saya bukan tipe wanita yang dekat sekali dengan orangtua. Bukan. Saya tidak menceritakan semuanya pada mereka. Akan tetapi, segala sesuatu yang saya lakukan, semuanya, selalu ada bayang-bayang keduanya. Ketika masih duduk di kelas 6 SD, saya tidak mengerti akan kemana saya bersekolah nanti. Ibu mengarahkan untuk masuk ke SMP 5 Yogyakarta, kebetulan dulu Beliau bersekolah disana. Saya masih ingat perkataan beliau saat itu,”Lebih baik kamu menjadi paling bodoh diantara yang pintar-pintar; dibandingkan jadi yang paling pintar diantara yang bodoh-bodoh”. Saat itu saya tidak paham apa maksud perkataan Ibu saya, tapi perkataan tsb saya buktikan di saat saya kuliah.

Saya bukanlah murid yang paling pintar, hanya beruntung. Alhamdulillah saya bisa masuk SMP 5 Yogyakarta dengan peringkat 391 dari 400. Adalah suatu kebahagiaan bisa masuk SMP yang sudah diarahkan oleh Ibu, meskipun di batas bawah. Kehidupan di SMP pun terseok-seok, semuanya pintar, mungkin hanya saya yang mencoba untuk beradaptasi di antara yang pintar-pintar. Ibu kerap mengelus dada seusai ambil rapot, karena peringkat kelas saya, kalau tidak 29 ya 34 dari 40. Sebenarnya mungkin saya bisa mengejar belajar, orangtua pun mengarahkan demikian. Entahlah kenapa saat itu yang di pikiran saya hanya main, main, dan main. Saya merasa bersalah saat ini.

Ibu mengarahkan saya ke SMA yang bagus ketika saya sudah kelas 3 SMP. Beliau mengingatkan perkataannya, bahwa lebih baik berada di lingkungan orang yang pintar, meski harus terseok-seok. Lalu keajaiban doa Ibu terjadi lagi. NEM saya saat itu Alhamdulillah bisa membahagiakan kedua orangtua saya. TerdengarĀ exaggeratedĀ memang, tapi percayalah, saat itu Ibu tidak berekspektasi sejauh itu. “Kalau kamu gini terus, paling nanti masuk SMA xx” dan sebagainya. Saat itu saya dihadapkan sebuah dilema, masuk SMA x atau SMA y. Akhirnya entah kenapa saat itu saya memutuskan untuk masuk SMA x. (–,)”

Saat SMA pun demikian, saya tidak menjadi yang terpintar. Selalu “ngambang”. Terbukti saat lulus SMA, ketika teman-teman sudah diterima di PTN pilihannya, saya belum. Agak sedih memang saat itu. Kenapa yang lain sudah diterima, kenapa saya belum. Saya obsesi banget untuk masuk Teknik Kimia UGM. Sedih ketika ga diterima UM UGM, betapa susahnya masuk PTN yang diingkan kala itu. Bahkan SNMPTN pun masih kekeuh pengen Teknik Kimia UGM. Pilihan keduanya? MIPA ITB. Pikiran saat itu, yang penting kuliah dulu. Yang lain dipikir belakangan.

Ketika sudah pengumuman, sedih campur lega. Sedih karena tidak diterima di UGM, lega karenaĀ at leastĀ bisa kuliah dulu. Bandung. Saya dari orok di Jogja, semua-semua di Jogja, dari simbah-simbah semua Jogja. Harus ke Bandung banget?

Hm, nggak sebegitunya sih -_- saat itu saya seneng aja diterima di ITB karena satu dan lain hal hahaha. Temen juga ada, petualangan baru pun mungkin akan seru, tapi satu yang kepikiran. Jauh dari orangtua. Seumur-umur baru ini lho, ga ada yang masakin, ga ada yng setrikain, ga ada yang bangunin.

Ternyata, ITB membuat saya betah dan menjadikan Bandung sebagai “rumah” kedua setelah Jogja,sampai sekarang. Siapa sangka? šŸ˜‰ Saat di perkuliahan, saya mendapati diri saya bahwa saya tidak salah tempat. Ternyata, saya ini MIPA banget! Untuk berpikir “teknik”, ternyata saya tidak mampu hahaha. Ternyata saya mengidolakan science, dan menjadi bersyukur sekali ketika tau penjelasan-penjelasan ilmiahnya. Semua saya temukan di ITB. Banyak sosok yang saya kagumi di kampus ini, salah satunya ya dosen pembimbing saya sendiri, Prof. Cynthia. Beliau adalah seorang Ibu yang bekerja sebagai dosen dengan pencapaian luar biasa. Riset-riset di bidang polimer, sekelas polimer untuk aplikasi EOR, membran, dll tidak perlu diragukan lagi. Beliau mengajarkan pada saya tentangĀ time managementĀ yang sampai sekarang masih terus saya pelajari.Ā Teman-teman disini pun semuanya sangat inspiratif. Banyak pemikiran dari paradigma hingga kultur berbeda yang saya dapatkan. Saya belajar untuk mengetahui bahwa perbedaan itu ada dan menerimanya, disini. Ah, terlalu banyak hal yang saya dapatkan disini. Di Jogja, saya mendapatkan semua hal tentang kesederhanaan; di Bandung, saya belajar menerima segala macam perbedaan.

Lalu, apa hubungan dengan quote yang saya paparkan sebelumnya?

Allah Maha Baik. Dia menuntun saya untuk “masuk”ke lingkungan yang di dalamnya banyak orang inspiratif. Betapa beruntungnya saya diberikan kesempatan untuk belajar dan mengenal orang-orang yang luar biasa hebat. Mungkin saya bukan menjadi orang yang pintar ketika di bangku sekolah, tapi Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk bertemu orang-orang hebat. Teman-teman saya lulusan SMP dan SMA? Wah semuanya inspring! Nggak salah lah Ibu dalam mengarahkan saya dulu. Banyak teman-teman lulusan SMP dan SMA saya yang membantu saya di kehidupan setelahnya. Dan saya harap saya pun bisa membantu mereka meski hanya sekadarnya, sesuai bidang saya.

DanĀ no offense,Ā di ITB saya mendapatkan diri saya. Saya menemukan bahwa ternyata tempat saya ada di bidang sains. Disini juga ternyata saya memperoleh banyak pengalaman dan kesempatan untuk belajar bidang kesukaan saya lebih dalam, yang mungkin tidak saya dapatkan di tempat lain.

BanyakĀ what-ifĀ memang, banyak kesedihan memang, tapi semua itu karena kita tidak mengerti. Bukan tugas kita untuk menerka, apalagi menentukan perihal jalan hidup bagaimana yang kita akan punyai. Tugas kita hanya percaya dan lakukan sebaik mungkin. Jika kita mengerti segala hal, tentu tidak akan adaĀ what-if dan kesedihan, apalagi yang berlarut-larut. šŸ™‚

Dan btw, ini cuma tentang apa ya, mungkin tentang pencapaian akademik saja lho. Sedangkan yang”diurus” Allah mencakup semua, termasuk rejeki, kesehatan, keuangan, jodoh, karir, dlsb.Ā All praises to Allah!

 

GPM, 29 Ramadhan 1437H.

Ketika menunggu suami pulang kerja dan kepikiran QS. 55:55

The beginning

Standard

Hola!

Setelah sekian lama menghilang (HAHAHA) akhirnya aku akan mempost sesuatu yang sudah ingin aku post sejak post terakhir di Desember 2015 lalu.

Jadi, I tied the knot with Dwi Aprianto on Sunday, 21st of Feb 2016, about 4 months ago yeay.

Memtuskan untuk menikah bukan sesuatu yang mudah lho. Banyak banget pertimbangan yang aku pikirkan, banyak hal yang harus aku hadapi, dan jelas banyak godaan yang harus ditepis. -,-

Nggak lama sebenernya aku kenal sama suamiku, cuma butuh waktu sekitar 8 bulan dr kenalan sampai nikah! Untuk bisa seyakin ini…hehehe

Beberapa hal yang aku hadapi beberapa waktu yang lalu mungkin tidak mudah, tapi semuanya jelas ada hikmahnya hehehe

Waktu itu, ada 2 pilihan hidup yang harus aku pilih dengan cepat, karena saat itu memang ada tenggat waktunya. Gak main-main, tentang masa depan. Aku dipaksa untuk menjadi dewasa, tenang dalam berpikir, dan melepaskan semuanya kala itu. Cuma Allah yang bisa membantu saat itu, oleh karenanya, aku bener-bener minta petunjuk hanya dariNYA. Susah sebenernya untuk tidak memihak pada pilihan mana pun, tapi memang harus dihadapi, jadi hajar aja lah hehehe

Saat itu aku inget banget, aku ngomong sm suami, “Aku pengen cepet-cepet bulan September, biar aku tau mana yang aku pilih”. Wehehehe kok sebegitunya ya :p

Ngomong-ngomong, sebenernya kenapa aku memilih untuk memutuskan menikah dengan suamiku? Jawabannya ternyata sangat sederhana. Karena dia sabar dan mau memperbaiki semua keadaan. Bener ya, ternyata jodoh itu memang sederhana dan mudah. ^^

Well aku akan melanjutkan lagi tulisan ini, maklum ini ditulis sambil nunggu jemputan suami hehehe

 

Wish us luck for the best marriage life forever. Amin

xoxo

Belum

Standard

Terasa berat belakangan ini. Rasanya ingin sekali berjalan di kampusku dulu ketika hujan reda, gerimis tak masalah. Rasanya ingin sekali melihat sekelilingku adalah suasana itu, tak bisa dijelaskan dengan kata. Rekam otak sungguh luar biasa, apalagi jika dibumbui apa-apa yang bisa dirasakan dalam dada.

Rasanya ingin sekali menuju ke utara, kemudian mengajak mengisi kekosongan. Setalah penuh, berjalan kembali hingga petang menyapa.

Mungkin aku rindu, mungkin rinduku sesaat. Tapi bagaimana ini, ketika belakangan terasa berat, yang meringankan adalah kala-kala itu. Kala ketika segalanya masih sanggup diperjuangkan dan terasa layak dipertahankan.

Mungkin aku belum.

untuk cukup

Standard

This Adelaide Sky is killing me now, said her.

Wanita itu menyeka airmatanya yang mungkin sia-sia sebenarnya. Mendadak hujan yang aromanya menyelinap di sela-sela kamar berubah menjadi hantu kenangan yang tak kunjung hilang. Mendadak apa yang ia rasakan menjadi kembali ke 6 tahun yang lalu ketika semuanya masih ia genggam.

Hal-hal yang tidak mudah untuk dilupakan, meskipun mungkin sudah ia ikhlaskan. Tak sedetikpun ketika hujan turun, ia tak ingat dengan memori-memori kala dulu.

Memori kadang mencengangkan. Bak hujan yang tetiba turun, ia mengubah semua keadaan menjadi rasa-rasanya sedemikian yang ia harapkan. Ia menginginkan kembali ke hari ketika ia habiskan dengan memandangi hujan dan berharap hujan reda di warung bakso langganannya. Ketika melintasi jalan yang basahnya membuatnya nyaman. Jalanan yang berkali-kali ia lewati tapi tak kunjung membosankan.

Telah banyak musik yang menyertai segala kenangannya, yang ketika ia putar lagi di masa kini, ingatannya menjurus ke tempat yang sama. Sedari dulu. Selalu ke muara yang sama, 6 tahun yang lalu.

 

Ia mengingat, bahwa suatu senja ia habiskan dengan tersenyum dan ketika masa kini bersedih pun, ia menjadikan memori itu sebagai obat yang akhirnya membuatnya tersenyum kembali.

 

Entah sampai kapan akan begini. Nampaknya satu-satunya obat sekaligus racun, itulah kenangan-kenangan yang ia ingat hingga sekarang. Meski sudah sangat tidak mungkin untuk kembali terjadi. Cukup mengingat, dan cukup bisa mengingat. Sudah lebih dari cukup. Meskipun, tak bisa cukup. Sebenarnya.

2015 is almost over!

Standard

2015 sudah ada di penghujungnya. Terakhir nulis di blog ini tanggal 3 Juni 2015, kira-kira hampir 7 bulan yang lalu hehehe

Di post terakhir, aku nulis tentang 10 facts dan di fact #10, aku menuliskan ini ;

2015 has already in its half, and seems like I havenā€™t do anything. I havenā€™t gain anything, I havenā€™t make any difference so that my self become a better one.

I haven’t gain anything :’) Ā Entah harus mengekspresikannya bagaimana, tapi aku bersyukur banget untuk pencapaian di tahun 2015 ini. Meskipun sederhana dan tidak muluk-muluk, tapi sangat aku syukuri. Btw, memang apa sih definisi bahagia?

Bagiku, bahagia adalah keadaan dimana hati tenang, jiwa sehat, dan segalanya terasa nyaman.

And I am happy now, Alhamdulillah. All praises to Allah!

Allah mengijinkan segalanya terjadi. Allahu Akbar.

Semoga segala sesuatunya lancar. Aku akan menulis lagi kira-kira 2 bulan lagi untuk menceritakan semua hal yang membuat aku bahagia dan dalam keadaan seperti sekarang ini.

 

See you in 2016! Sure 2016 will be much better than 2015 ā¤

Aaaaamiiiiiiin.

Bismillahirrahmanirrahim….